Jumat, 27 Januari 2012

Pertarungan dua Mantan Pemain

Persipura vs Sriwijaya FC ( www.facebook.com/sriwijayafc )
Sabtu (28/01) nanti, Sriwijaya FC akan menghadapi Persipura Jayapura dalam laga lanjutan kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2011/2012. Pertandingan ini, termasuk dalam kategori pertandingan yang sangat besar dan juga bergengsi dikarenakan pada pertandingan ini mempertemukan dua klub yang pernah menggapai juara liga dan juga pernah mengikuti kompetisi Liga Champion Asia dan Piala Asia.

Persipura Jayapura sebagai juara ISL musim lalu, memiliki modal yang sangat kuat untuk melayani tim tamu mereka yaitu Sriwijaya FC. Pada pertandingan sebelumnya, Persipura Jayapura berhasil menang 3-1 dari Persiram Raja Ampan melalui gol yang dicetak oleh Boaz Salossa, Alberto Goncalves, dan Ian Louis Kabes.

Sementara itu, Sriwijaya FC yang datang ke Stadion Mandala di Jayapura, membawa sedikit perasaan yang tidak baik. Hal ini dikarenakan pada pertandingan sebelumnya, Sriwijaya FC harus tunduk 0-1 kepada Persiwa Wamena setelah Edison Pieter Romaropen berhasil memasukkan gol memanfaatkan sebuah peluang manis.

Terlepas dari gengsi dan juga hasil pertandingan terakhir dari kedua klub ini, ternyata ada sesuatu hal yang boleh dikatakan menarik untuk kita cermati. Pada pertandingan ini, terdapat dua orang pemain yang pernah bermain disalah satu klub dan juga mendapatkan gelar juara. Mereka adalah Zah Rahan dan Rahmat Rivai.

Bagi masyarakat Sumatera Selatan dan penggemar Sriwijaya FC, nama Zah Rahan tentu tidak asing lagi ditelinga mereka. Bagaimana tidak, Zah Rahan memang termasuk kedalam kategori pemain yang merupakan roh dari tim. Zah Rahan bersama dengan Kayamba Gumbs, dan Obiora, merupakan trisula maut yang dimiliki oleh oleh Sriwijaya FC. Bahkan, sebelum ke Persipura, Zah Rahan bersama dengan Kayamba Gumbs dan Obiora, mereka berhasil mempersembahkan gelar Juara Liga dan Piala Indonesia bagi Sriwijaya FC.

Sementara itu, Rahmat Rivai, sebelum bergabung dengan Sriwijaya FC pada musim 2011/2012 ini, dia pernah memperkuat Persipura pada musim sebelumnya. Bersama dengan Persipura, dia merasakan bagaimana nikmatnya mendapatkan gelar Juara ISL. Pada saat mendapatkan gelar juara, Rahmat Rivai juga bersama dengan Zah Rahan, walaupun pada akhirnya Rahmat Rivai memilih bergabung kembali dengan Sriwijaya FC.

Tentunya, pertandingan ini sangat asyik untuk disaksikan. Tetapi sayang, pihak ANTV kabarnya tidak bisa mewujudkan keinginan masyarakat pecinta sepak bola Indonesia untuk dapat menyiarkan pertandingan yang penuh gengsi ini. Hal ini dikarenakan banyaknya pertimbangan-pertimbangan yang dimiliki oleh ANTV sehingga mereka memutuskan untuk tidak menyiarkan secara langsung pertadingan ini.

Walaupun demikian, tentunya pertandingan ini akan tetap berjalan walaupun tidak disiarkan secara langsung oleh pihak televisi. Pertandingan ini tentunya akan menghadirkan emosi tersendiri bagi para pemain, terutama Zah Rahan dan Rahmat Rivai. Lantas, siapakah yang akan memenangkan pertandingan ini? mari kita lihat saja nanti.

Pincang, Sriwijaya FC pun kalah

Rivky Deython Mokodompit ( internet / sripoku.com )
Akhirnya, Sriwijaya FC kembali menderita kekalahan yang kedua kalinya setelah sebelumnya berhasil dikalahkan oleh Persib Bandung dalam lanjutan kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2011/2012.

Kali ini, Sriwijaya FC berhasil dikalahkan oleh Persiwa Wamena dengan kedudukan akhir 1-0 untuk kemenangan Persiwa. Persiwa Wamena berhasil menang setelah Edison Pieter Romaropen pada menit ke 47 berhasil memperdaya penjaga gawang Sriwijaya FC yang bernama Rivki Deython Mokodompit.

Ketika menghadapi Persiwa, Sriwijaya FC tanpa diperkuat pemain bintang. Pemain tersebut adalah Thierry Gathuessi dan Lim Joon Sik yang terkena akumulasi kartu kuning, Ponaryo Astaman yang masih dalam tahap penyembuhan cidera hamstring, dan Ferry Rotinsulu yang menderita demam ketika menjelang pertandingan tersebut.

Walaupun ditinggalkan pemain utama, pola permainan Sriwijaya FC tidak berubah dari permainan pada pertandingan sebelumnya. Selama babak pertama, para pemain Sriwijaya FC menguasai jalannya pertandingan. Bahkan, para pemain Sriwijaya FC seperti bermain di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring dikarenakan sangat santai dan terus menekan pertahanan Persiwa.

Memasuki awal babak kedua, para pemain Sriwijaya FC dikejutkan oleh serangan para pemain Persiwa. Hasilnya, pemain Persiwa yang bernama Edison Pieter Romaropen berhasil mencetak gol sehingga Persiwa unggul 1-0 dan hingga pertandingan selesai, keunggulan Persiwa tetap bertahan sehingga kemenangan pun berhasil didapatkan oleh tim yang berjuluk Laskar Badai Pegunungan.

Menyikapi gol yang dicetak oleh Edion Pieter Romaropen tersebut, penjaga gawang Sriwijaya FC yang bernama Rivky Deyton Mokodompit mengatakan bahwa sebenarnya posisi dari Edison Pieter Romaropen tersebut sudah terperangkap dalam offside. Tetapi, ternyata wasit dan hakim garis menganggap bahwa kejadian tersebut tidak offside.

"Bukannya tidak ingin mengakui kekalahan, namun saya lihat Edison Pieter Romaropen yang mencetak gol tidak bergerak sama sekali. Posisinya sudah berada di depan pemain belakang kita, namun saya tidak tahu dalam pandangan wasit bagaimana. Gol Persiwa ini bermula umpan silang dari sisi kanan lapangan, kemudian bola yang memantul langsung saja disambar oleh Pieter. Bola tendangannya sempat tertepis oleh saya namun masih masuk ke gawang" Kata Rivky.

Setiap pertandingan, terkadang memang dirasakan tidak adil oleh salah satu tim yang bertanding dikarenakan keputusan yang diberikan oleh wasit. Tetapi, apapun itu, wasit adalah penguasa di lapangan yang keputusannya mutlak harus diterima oleh para pemain, official, dan para supporter. Jikalau keputusan wasit memang keliru, sudah sepantasnya dilaporkan kepada pengurus PSSI yang mengurusi wasit agar wasit memang bekerja dengan baik dan benar sehingga memberikan keadilan bagi kedua tim tanpa harus merugikan salah satu tim, apalagi tim tamu.

Kekalahan Sriwijaya FC atas Persiwa Wamena ini, membuat Sriwijaya FC harus turun ke peringkat kedua klasemen sementara. Hal ini dikarenakan Persipura berhasil menang 3-1 atas Persiram Raja Ampat melalui gol yang dicetak oleh Boaz Salossa, Alberto Goncalves, dan Ian Lois Kabes. Kemenangan Persipura tersebut membuat persipura menduduki peringkat pertama dengan poin 20 dan Sriwijaya FC menduduki peringkat kedua dengan poin 19.

Pada hari Sabtu (28/01) nanti, Sriwijaya FC akan mendatangi Jayapura guna menghadapi Persipura. Pertandingan ini tentunya merupakan pertandingan yang ditunggu-tunggu. Selain masalah gengsi dalam hal prestasi, hasil dari pertandingan ini akan menentukan siap yang memuncaki klasemen sementara kompetisi Indonesian Super League musim 2011/2012.

Sriwijaya FC tentunya mempunyai keinginan yang sangat besar untuk mengalahkan Persipura dikarenakan ingin menduduki peringkat pertama dan juga para pemain Sriwijaya FC yang tidak bisa bermain ketika melawan Persiwa, bisa diturunkan ketika Sriwijaya FC menjalani pertandingan melawan Persipura.

Siapakah yang akan menang? mari kita tunggu dan kita saksikan bersama.

Senin, 09 Januari 2012

Pembantaian di Malang

Hilton Moreira bersama Fans (dok. pribadi)
Pembantaian, sebuah kata yang sangat tidak enak untuk didengar, apalagi diucapakan serta dilakukan. Tetapi mau bagaimana lagi, saat ini memang persoalan pembantaian memang lagi terekam erat di otak rakyat Indonesia.

Sebelumnya, kita telah mendengar dan melihat pembantai yang terjadi dibeberapa daerah dalam negara kesatuan republik Indonesia. sebuah peristiwa yang sungguh menyayat hati kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

setelah beberapa peristiwa pembantaian yang dikabarkan oleh banyak sekali media pemberitaan yang ada dinegeri ini, kini saya akan memberitahukan sebuah informasi mengenai pembantaian yang terjadi di negara yang kita cintai ini. Pembantaian ini terjadi di kota Malang Provinsi Jawa Timur.

Bertempat di Stadion Kanjuruhan, Arema Indonesia harus mengakui kegagahan Sriwijaya FC setelah Sriwijaya FC membantai Arema Indonesia dengan kedudukan akhir 1-5 untuk kemenangan Sriwijaya FC pada hari Minggu (08/01) malam. Kemenangan Sriwijaya FC ini didapatkan setelah Hilton Moreira mencetak tiga gol (hattrick pertama Kompetisi ISL musim 2011/2012) dan dua gol tambahan yang dicetak oleh Keith Kayamba Gumbs.

Seperti biasa, Sriwijaya FC yang turun dengan kekuatan penuh, mengambil inisiatif untuk melakukan serangan terlebih dahulu pada pertahanan arema. Sepanjang dua puluh menit babak pertama, pertahanan Arema harus berjuang mati-matian guna menahan serangan para pemain Sriwijaya FC yang dikomandani Ponaryo Astaman.

Tetapi sayang, pertahanan yang dibangun dengan kokoh tersebut, harus roboh setelah Hilton Moreira mencetak gol melalui tendangan bebas yang sangat keras, sehingga tidak bisa ditangkap oleh penjaga gawang Arema Indonesia yang bernama Yuwiwanto Beni.

Ternyata, walaupun sudah unggul 0-1 dari Arema, para pemain yang dilatih oleh Kas Hartadi ini, terus melakukan penyerangan terhadap lini pertahanan Arema yang dikawal oleh Pierre Pattrick Seme dan mantan pemain Sriwijaya FC yang bernama Charis Yulianto. Akhirnya, Hilton pun menambah dua gol melalui umpan dari Firman Utina dan Keith Kayamba Gumbs. Hingga babak pertama selesai, kedudukan 0-3 untuk keunggulan Sriwijaya FC.

Sebagai penggemar Sriwijaya FC, hasil keunggulan 0-3 sudah membuat saya senang. Bagaimana saya tidak senang, hasil keunggulan tersebut didapatkan melalui permainan cantik yang mengandalkan satu dan dua kali sentuhan. Tetapi, saya juga berharap agar Hilton Moreira berhasil mencetak satu gol lagi sehingga bisa mengkudeta Herman Dzumafo (Pemain PSPS) dari daftar sementara pencetak gol terbayak kompetisi ISL musim 2011/2012.

Tetapi apa mau dikata, Hilton Moreira tidak berhasil mengkudeta Dzumafo. Pada pertandingan babak kedua, Sriwijaya FC berhasil menambah dua gol melalui Keith Kayamba Gumbs. Sedangkan gol balasan Arema dicetak oleh Arif Ariyanto memanfaatkan umpan tendangan bebas dari Firmansyah Aprillianto.

Hasil kemenangan ini tentunya membuat para penggemar Sriwijaya FC menjadi senang. Kemenangan ini membuat Sriwijaya FC berhasil menduduki peringkat pertama klasemen sementara kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2011/2012.

Selanjutnya, Sriwijaya FC akan menghadapi Gresik United pada tanggal 12 Januari 2012 dan Persiba Balikpapan pada tanggal 15 Januari 2012 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang. Khusus pertandingan melawan Persiba Balikpapan, akan dilaksanakan pada pukul 18.30 WIB.

Tetaplah semangat bertanding wahai para pemain Sriwijaya FC. Kami akan selalu mendukung dan berdo'a agar Sriwijaya FC diberikan yang terbaik dan pada akhirnya, Insya Allah akan menjadi juara kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2011/2012. Aaamiiin.

*** note ***

Selamat hari lahir buat pemain Sriwijaya FC yang bernama Mahyadi Panggabean (08/01) dan Supardi (09/01). Semoga semua mimpi dan cita-cita diwujudkan oleh Allah SWT dan semoga bisa menjadi perantara Allah SWT untuk membawa Sriwijaya FC menjuarai kompetisi Indonesian Super League (ISL) musim 2011/2012 ini. Aaamiin.

Rabu, 04 Januari 2012

Kisruh PSSI: Ajang adu domba

Kisruh PSSI ( internet/goligog.wordpress.com)
Tidak terasa, hari telah berganti hari, minggu telah berganti minggu, bulan telah berganti bulan, dan tahun pun telah berganti tahun. Semuanya menjadi baru, dengan suasana dan semangat baru pula tentunya.

Tetapi sayang seribu kali sayang. Momen pergantian tahun ini ternyata tidak membawa dampak yang baik pada tubuh PSSI. Kisruh yang terjadi pada tahun 2011 yang lalu, malah cenderung semakin menjadi-jadi pada tahun 2012 ini.

Melihat kisruh yang terjadi di tubuh PSSI saat ini, saya beranggapan bahwa kisruh ini hampir sama rasanya ketika kita menikmati mie instan. Mie instan merupakan makanan favorit sebagian rakyat Indonesia dan mungkin sebagian besar mahasiswa ataupun para pelajar yang kebetulan tinggal terpisah dengan orang tua mereka.

Mie instan tersebut mempunyai harga yang sangat murah dan juga sangat sedap ketika dinikmati. Tetapi, ketika kita sudah menjadi terbiasa menikmati makanan siap saji ini, maka penyakitlah yang akan hinggap dan mungkin menetap selamanya ditubuh manusia yang menikmatinya.

Begitulah gambaran perumpamaan kisruh PSSI saat ini. Kisruh ini sangat dinikmati oleh segelintir orang yang bisa mendapatkan keuntungan dari kekisruhan ini. Setelah kekisruhan ini semakin menjadi-jadi dikonsumsi oleh penikmat sepak bola tanah air, maka akan timbul sebuah penyakit yaitu saling membenci dikarenakan para penikmat sepak bola ini diadu domba untuk membela Indonesian Premier League (IPL) ataupun Indonesian Super League (ISL). Akibat dari adu domba tersebut, sebagian penikmat sepak bola di tanah air merasa bahwa IPL yang paling benar, dan meremehkan pendukung ISL. Sebaliknya, pendukung ISL pun demikian.

Hal ini dapat kita lihat berdasarkan tulisan dari Mas Budi Kurniawan pada website kompasiana.com dengan judul tulisan yaitu Kisruh PSSI di Facebook. Pada tulisan tersebut dikatakan bahwa ada beberapa grup di facebook yang membahas masalah kekisruhan di PSSI. Grup tersebut adalah FORUM DISKUSI SUPORTER INDONESIA, Forum Diskusi Suporter Sepakbola Indonesia, dan beberapa grup komunitas yang saya ikuti yaitu FORUM DISKUSI SUPORTER INDONESIA (PRO IPL), You Need Me?, Indonesia Bicara Bola.

Ketika saya menyelusuri satu demi satu dari grup yang diberikan oleh mas Budi Kurniawan tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan secara sepihak bahwa satu grup dibuat khusus untuk membela PSSI dan IPL. Sedangkan satu grup lagi, dibuat dengan tujuan untuk membela ISL. Sedangkan grup yang saya ikuti dan saya tuliskan pada paragraf sebelumnya, merupakan grup yang berimbang karena memberikan data dan fakta yang terbaru dari dunia sepak bola di negeri kita Republik Indonesia ini.

Perbedaan yang timbul dari grup-grup yang mendukung IPL ataupun ISL tersebut, pada akhirnya akan membuat mereka saling mencurigai dan saling membenci. Tentunya alasannya sama, yaitu mereka menganggap bahwa sesuatu yang mereka yakini adalah benar tanpa mau memperhatikan pendapat atau fakta dari orang lain yang bisa jadi fakta tersebut adalah benar.

Lebih lanjut saya juga ingin mengomentari tulisan dari Mas Budi Kurniawan tersebut. Pada tulisan tersebut terdapat kalimat yang menyatakan bahwa cuma mereka yang tidak mengerti tentang sepak bola dan hanya sebagai penonton sajalah orang yang menuduh bahwa PSSI jahat terhadap penggemar klub karena klubnya diberikan sansk dan denda oleh PSSI.

Saya sebagai penggemar klub yang disebutkan oleh Mas Budi Kurniawan dalam tulisannya dan mengetahui setiap informasi yang terjadi di Sriwijaya FC, beranggapan bahwa pendapat yang dituangkan didalam tulisan tersebut tidaklah berdasar. Hal ini diakrenakan bahwa sebenarnya alasan yang diajukan oleh PSSI sangatlah tidaklah memperhatikan fakta yang ada sebelumnya ketika memberikan hukuman kepada Sriwijaya FC. Bahkan, pada paragraf terakhir dari tulisan tersebut membanding-bandingkan seseorang berdasarkan kasta tertentu. Padahal, ketika saya menyelusuri grup yang disebutkan oleh Mas Budi Kurniawan tersebut, saya meyakini bahwa grup tersebut memang dibuat khusus untuk mendukung PSSI dan ketika ada seseorang yang mengeluarkan kalimat negatif seputar PSSI, maka akan langsung dihapus dan dikeluarkan dari keanggotaan grup tersebut.

Jikalau para pembaca memang ingin mendapatkan informasi teraktual dan terpecaya, silahkan masuk ke grup You Need Me?, disana merupakan grup yang membahas masalah teraktual seputar PSSI kita. Seperti informasi yang baru saya dapatkan dari Rio Josia yang kabarnya bekerja di Tabloid Bola (berdasarkan biodata akun facebook), mengatakan bahwa salah seorang karyawan yang menguasai Transfer Machin System, telah dipecat dan diganti dengan orang yang tidak berpengalaman. Hal ini berakibat pada tidak bisanya klub-klub IPL atau klub divisi utama LPIS memasukkan nama-nama pemain asing terbaru.

PSSI memberhentikan karyawan (Rio Josia)
"Sekadar bocoran info PSSI baru memberhentikan salah satu karyawannya yg pegang gembok Transfer Marchine System. Persoalannya sekarang penggantinya kebingungan krn enggak pegang pasword dan memiliki keahlian mengolah TMS. Alhasil, klub-klub IPL atau klub-klub Divisi Utama LPIS enggak bisa memasukkan pemain asing baru. Contoh kasus paling gres klub milik Tulang Sihar Sitorus, Pro Duta. Orang yg dipecat kemudian dicall untuk kembali, tapi emoh krn dah merasa dizholimi.

Note : untuk bisa menguasai TMS, seseorang harus kursus ke AFC dan FIFA dan kursus tersebut tidak setiap saat ada. Tanpa sertifikat itu dipastikan mentok.
" Kata Rio Josia melalui grup You Need Me?

Kembali kepada sanksi yang diturunkan oleh PSSI kepada Sriwijaya FC. Sebelumnya, manajemen Sriwijaya FC menerima surat dari PSSI yang menawarkan agar manajemen Sriwijaya FC mengikuti kompetisi Indonesian Super League (IPL). Manajemen Sriwijaya FC dalam hal ini memberikan surat balasan yang mengatakan bahwa Sriwijaya FC siap mengikuti IPL dan menjalani pertandingan melawan Persebaya Surabaya. Tetapi, manajemen Sriwijaya FC mengatakan bahwa Sriwijaya FC tidak bisa meninggalkan ISL, hal ini dikarenakan bahwa sebagian besar penggemar Sriwijaya FC dan sebagian besar masyarakat Sumatera Selatan menginginkan agar Sriwijaya FC tetap menjalani pertandingan di kompetisi ISL.

Setelah manajemen Sriwijaya FC mengirimkan surat balasan tersebut dan meminta keputusan dari PSSI mengenai posisi dari Sriwijaya FC, ternyata manajemen tidak mendapatkan surat balasan hingga pertandingan tiba.
“Kami menegaskan bahwa kami tidak bisa meninggalkan ISL karena hal tersebut merupakan aspirasi dari sebagian besar masyarakat sumatera selatan dan penggemar Sriwijaya FC dan kami tetap mengikuti IPL karena menghormati dan taat pada perintah PSSI. Namun nyatanya, tidak ada jawaban dari PSSI dan kami pun memutuskan untuk tidak berangkat melawan Persebaya dikarenakan kami masih menunggu jawaban dari PSSI.” Kata Hendry Zainuddin.

Setelah beberapa hari semenjak tanggal pertandingan melawan Persebaya di Kompetisi IPL, manajemen Sriwijaya FC mendapatkan surat dari PSSI bahwa Sriwijaya FC didenda sebesar 500 juta dan harus turun ke divisi utama pada musim 2012/2013 dikarenakan menurut PSSI, Sriwijaya FC menolak untuk melakukan pertandingan melawan Persebaya.

Tentunya surat dari PSSI ini membuat pihak manajemen Sriwijaya FC meradang. Alasan pemberian hukuman tersebut dianggap tidak logis diberikan kepada Sriwijaya FC karena manajemen telah mengatakan bahwa Sriwijaya FC siap menjalani pertandingan melawan Persebaya dan menantikan kepastian dari PSSI. Tetapi memang, tim Sriwijaya FC tidak jadi diberangkatkan dikarenakan kepastian dari pihak PSSI tidak kunjung datang.

Sebagaimana manajemen, kami sebagai penggemar Sriwijaya FC pun merasa diperlakukan tidak adil oleh PSSI. Kami kesal kepada PSSI bukan berarti kami awam dan bukan berarti kami mempunyai tingkat pendidikan ditingkat menengah kebawah, tetapi karena cara PSSI terhadap klub kebanggaan kami yang kami nilai diluar logika.

Saya menghargai Mas Budi Kurniawan yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Australian Nation University, Canberra, pada program Master Public Policy. Tetapi tentunya, penedidikan tersebut akan percuma kalau kita menganggap renda orang lain tanpa mengesampingkan fakta yang ada. Bahkan saat ini, banyak orang yang menempuh pendidikan paling tinggi, tetapi kelakuannya seperti sampah. Kita lihat saja para koruptor di negeri ini. Jadi, pendidikan yang tinggi jangan terlalu dibanggakan.

Sebagai seseorang yang mengaku cerdas dan berpendidikan, tentunya kita jangan menilai sesuai tanpa memperhatikan alur kejadian dari awal sampai akhir dengan benar. Jikalau hal tersebut dilakukan, maka kita yang berpendidikan tentunya akan menjadi seperti orang yang lebih awam dan lebih tidak berpendidikan daripada orang yang kita anggap berpendidikan rendah.

Semoga kita semua tidak menjadi korban adu domba oleh orang-orang yang ingin memperkaya diri mereka sendiri. Kita ini adalah saudara, saudara sebangsa dan setanah air.

"Janganlah kamu mencintai seseorang secara berlebihan sehingga menutup hati kita untuk menerima bahwa seseorang yang kita cintai ternyata mempunyai kesalahan. Sebaliknya, jangan kita membenci seseorang secara berlebihan sehingga menutup hati kita untuk menerima kenyataan bahwa orang tersebut memang melakukan sebuah kebaikan yang mungkin akan bermanfaat bagi kita." Oyong Hairudin.

Selasa, 27 Desember 2011

Kasus Bambang Pamungkas cs, masih diusut

Tentunya kita masih ingat peristiwa yang terjadi pada hari Minggu (18/12) malam yang lalu. Bagi para penggemar Sriwijaya FC, peristiwa ini masih terniang dengan jelas diingatan karena kasus pengeroyokan yang dilakukan oleh oknum pemain persija terhadap pemain Sriwijaya FC yang bernama Hilton Moreira dan Thierry Gathuessi, termasuk kedalam kategori tindak pidana.

Kasus yang diduga melibatkan Bambang Pamungkas tersebut, pada saat ini sedang diusut oleh pihak kepolisian karena pada waktu kejadian, sudah masuk dalam ranah penegak hukum. Bahkan, hari Jum'at yang lalu, Kepala Polisi Resort Kota (Kapolresta) Palembang telah melakukan pra rekonstruksi yang menghadirkan saksi korban dan juga saksi lainnya dari pihak Hotel Swarna Dwipa Palembang yang merupakan tempat kejadian perkara. Sanksi dari pihak hotel tersebut bernama Duddy Purnawan dan Dedi Oktara.

Sejatinya, kita sebagai penikmat pertandingan sepak bola sangat menyayangkan kejadian tersebut. Mereka yang menganggap diri mereka professional, ternyata belum mampu menahan emosi yang sebenarnya harus selesai ketika pertandingan sepak bola selesai dilaksanakan. Apalagi penyebab pengeroyokan tersebut adalah hal sepel yang merupakan bagian dari permainan sepak bola.

Peristiwa pengeroyokan ini disebabkan oleh teknik diving yang dilakukan oleh pemain Sriwijaya FC yang bernama Hilton Moreira. Teknik diving tersebut boleh dilakukan asal tidak diketahui oleh wasit karena merupakan bagian dari teknik bermain sepak bola. Tetapi, jika wasit mengetahui, seseorang yang menggunakan tekhnik tersebut harus siap untuk menerima kartu kuning atau bahkan kartu merah dari sang penguasa di lapangan hijau.

"Awal mula kejadian lantaran Hilton Moreira dipojokkan salah satu pemain Persija yang menyebutnya sering diving (menjatuhkan diri saat bermain). Menanggapi kecaman tersebut Hilton menjawab, biarlah wasit yang mengatur dan menentukan." kata Kapolresta Palembang Kombes Pol Drs Agus Sulistiyono, MSi melalui Kasat Reskrim Kompol Frido Situmorang, SIk, SH. (inilah.com)

Kedua manajemen telah sepakat untuk melakukan perdamaian demi sepak bola Indonesia yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan surat permintaan maaf dari pihak Persija yang ditandatangani oleh Presiden klub yang bernama Ferry Paulus yang ditujukan kepada Presiden Klub Sriwijaya FC yang bernama Dodi Reza.

"Pada hari ini Sriwijaya FC telah menerima Surat dari Persija, Jakarta yang ditandatangani oleh Presiden Klubnya Bapak Ferry Paulus, yang secara resmi telah menyampaikan surat permohonan maaf kepada Sriwijaya FC yang suratnya ditujukan kepada Bapak H. Dodi Reza Alex Noerdin, Presiden Klub Sriwijaya FC atas terjadinya insiden pemukulan/pengeroyokan pada tanggal 18 Desember 2011." Kata Sekretaris PT. Sriwijaya Optimis Mandiri yang bernama Faisal Mursyid.

Walaupun kedua pihak telah melakukan perdamaian, namun kasus ini masih tetap diproses oleh aparat penegak hukum karena kejadian berlangsung diwilayah aparat penegak hukum. Manajemen Sriwijaya FC pun menyatakan bahwa biarlah aparat penegak hukum yang memproses kejadian ini.

"Manajemen sepakat berdamai, ini demi kelangsungan kompetisi, artinya demi kemajuan sepakbola, tetapi untuk ranah hukum kita hormati proses yang sedang berjalan," kata Direktur Keuangan PT Sriwijaya Optimis Mandiri yang bernama Augie Bunyamin pada hari Sabtu (24/12/2011). (tribunnews.com)

Sementara itu, kelompok supporter Sriwijaya FC dari yang bernama BELADAS, mengatakan bahwa alangkah baiknya kalau pemain persija yang terlibat langsung dalam kasus pengeroyokkan tersebut, memimta maaf secara khusus kepada Hilton dan Thierry serta kepada para penggemar Sriwijaya FC secara keseluruhan.

"Kami yakin bahwa manajemen bisa memberi maaf. Tetapi pemain yang jadi korban seperti Thierry Gathuessi dan Hilton Moreira belum tentu bias menerima, apalagi sempat dipukuli. Oleh karena itu, kami menyarankan agar mereka bias meminta maaf kepada Hilton dan Thierry melalui media dan juga mungkin mereka harus mengganti biaya pengobatan sera meminta maaf kepada manajemen dan pengelola Hotel Swarna Dwipa" Kata Ketua BELADAS Korwil SMS yang bernama Eddy Ismail (Sumatera Ekspress, Senin 26 Desember 2011 Halaman 2)

Kini, biarkanlah kasus ini ditangani oleh pihak yang berwajib. Kita sebagai penonton dan pendukung tidak perlu untuk ikut campur karena ini murni tindak kriminal. Kita hanya mendukung pemain dan klub yang kita sayang selama mereka berada di jalur yang benar.

Semoga saja kasus ini menjadi kasus yang terakhir dalam dunia sepak bola di Indonesia. Semoga saja!!!

Palembang, 26 Desember 2011

Minggu, 25 Desember 2011

Satu warna, tidaklah penting

Saya termasuk kedalam kategori orang yang tidak terlalu suka untuk dipaksa memakai baju yang berwarna sama ketika menyaksikan pertandingan sepak bola. Saya merasa bahwa kesamaan dapat menghambat kreatifitas dan kebebasan seseorang dalam mendukung tim yang mereka banggakan.

Bagi beberapa orang yang menjadi penggemar sepak bola, kesamaan pakaian dalam menyaksikan pertandingan sepak bola sangatlah penting. Mereka sangat militant dalam mengajak orang untuk memakai warna yang sama ketika menyaksikan tim mereka bertanding di stadion kebanggaan mereka.

Saya sangat menghargai niat dan usaha para penggemar sepak bola yang berusaha untuk mengajak para penonton untuk memakai baju yang berwarna sama ketika menyaksikan pertandingan sepak bola. Tetapi saya juga berharap agar kiranya mereka juga menghargai keputusan orang-orang yang tidak ingin memakai warna yang sama ketika menyaksikan pertandingan sepak bola karena mereka memiliki alasan yang berbeda-beda sehingga mereka tidak mau memakai warna yang sama ketika menyaksikan pertandingan tersebut.

Hal terpenting dalam menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola adalah bagaimana caranya kita mendukung tim kebanggaan kita dengan kreasi dan inovasi, sehingga para pemain yang membela klub yang kita banggakan, bisa termotivasi untuk terus berjuang mendapatkan hasil yang terbaik. Selain itu, hal yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita bisa menciptakan suasana yang aman, tentram, dan damai ketika kita menyaksikan pertandingan sepak bola dan juga tidak memiliki permusuhan dengan sesama pendukung satu klub ataupun dengan pendukung klub lain. Percuma saja kalau stadion diisi oleh orang-orang yang memakai baju yang sama, tetapi mereka bermusuhan dan juga dengan pendukung klub lain mereka bermusuhan. Tentunya sangat merugikan kalau kita mempunyai musuh dari pendukung klub lain yang berada di luar dari daerah kita. Kita tidak bisa mendukung para pemain di klub kebanggaan kita dan tentunya ini akan sedikit mempengarhui semangat para pemain karena mereka tidak mendapatkan dukungan dari pendukung mereka.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena pada saat ini para pendukung Sriwijaya FC sudah menciptakan kedamaian antara sesama pendukung di Stadion dan juga dengan para pendukung dari klub lain. Para pendukung Sriwijaya FC sudah sepantasnya dijadikan contoh oleh pendukung klub lain dalam mendukung tim kebanggaan mereka. Para pendukung Sriwijaya FC lebih mengedepankan persaudaraan dan perdamaian dalam mendukung tim kebanggaan mereka karena mereka menyadari bahwa semua pendukung klub sepak bola di Indonesia adalah bersaudara, saudara sebangsa dan setanah air.

Tetapi memang pada saat ini, sangat banyak penonton yang menyaksikan pertandingan kandang Sriwijaya FC, tidak memakai baju berwarna kuning. Seperti yang saya katakana sebelumnya, biarkanlah mereka merasa bebas tanpa medapatkan “paksaan” bahwa ketika mereka menyaksikan Sriwijaya FC bertanding di Jakabaring, mereka harus memakai baju yang berwarna kuning. Kalau “paksaan” ini terjadi, maka keinginan untuk melihat stadion gelora sriwijaya jakabaring menjadi ramai, tidak akan terwujud. Biarkanlah mereka bebas menentukan apa keinginan mereka karena mereka memiliki alasan yang berbeda-beda dan tentunya tidak dapat kita paksakan. Tujuan utama kita menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring adalah untuk mendukung para pemain Sriwijaya FC untuk mendapatkan hasil yang terbaik, bukan untuk menyamakan warna baju agar enak dilihat oleh orang lain.

Percayalah bahwa suatu saat nanti, stadion akan dipadati oleh penonton dan supporter Sriwijaya FC yang memakai baju berwarna kuning, membentangkan syal yang bertuliskan Sriwijaya FC, meniupkan terompet, dan membentuk gelombang ombak seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Semua itu akan kembali terjadi jikalau kita saling menghargai alasan, menciptakan kedamaian, dan menerima segala hasil yang terjadi setelah pertandingan selesai. Jika itu semua telah dilaksanakan, maka impian tersebut bisa menjadi kenyataan dan semuanya akan bertambah nikmat jika Sriwijaya FC menjadi juara. Semoga saja.

Palembang, 25 Desember 2011

PSSI kekanak-kanakan

Sebagai penggemar Sriwijaya FC, saya sangat terkejut dengan keputusan sanksi yang diberikan oleh Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) kepada Sriwijaya FC. Klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu diberikan sanksi berupa penurunan kasta dari kasta tertinggi menjadi kasta kedua yaitu divisi utama pada musim 2012/2013 nanti. Selain itu, Sriwijaya FC juga didenda uang sebesar 500 juta rupiah.

Saya menilai bahwa keputusan PSSI tersebut diambil tanpa memperhatikan alasan-alasan yang ada sebelumnya. Latar belakang dikeluarkannya keputusan tersebut adalah dikarenakan Sriwijaya FC tidak mau bertanding melawan Persebaya dalam kompetisi Indonesian Premier League (IPL).

Manajemen Sriwijaya FC yang dalam hal ini diwakili oleh Direkter Teknik dan Sumber Daya Manusia PT. Sriwijaya Optimis Mandiri (PT. SOM) yang bernama Hendry Zainuddin mengatakan bahwa manajemen Sriwijaya FC telah menyiapkan manajemen, pelatih, dan pemain untuk memperkuat Sriwijaya FC di IPL. Tetapi tim tersebut tidak jadi diberangkatkan karena menanti surat balsan dari PSSI terkait dengan kepastian Sriwijaya FC menjalani pertandingan di IPL.

“Kami sudah menyiapkan tim dan akan berangkat menghadapi Persebaya, namun surat berbeda justru diturunkan oleh PSSI. Sebelumnya PSSI mengirimkan surat mengenai desakan agar kami meninggalkan ISL.” Kata Hendry Zainuddin.

Sebelumnya,Manajemen Sriwijaya FC telah menerima surat dari PSSI yang bernada desakan agar Sriwijaya FC meninggalkan kompetisi Indonesian Super League (ISL) dan memilih berlaga di kompetisi yang katanya diakui oleh PSSI, dalam hal ini adalah IPL.

Surat PSSI tersebut ditanggapi oleh manajemen Sriwijaya FC dengan memberikan surat balasan yang berisi jawaban bahwa Sriwijaya FC tidak bisa meninggalkan ISL, tetapi tetap mengikuti IPL dengan mengirimkan tim untuk berlaga di kompetisi tersebut.

Sebagian besar penggemar Sriwijaya FC memang menginginkan agar Sriwijaya FC bergabung dalam kompetisi yang diisi oleh klub-klub yang berpengalaman dan juga lebih berkualitas. Alasan itulah yang membuat manajemen Sriwijaya FC tetap mengikuti ISL. Tetapi, sebagai klub yang berada dibawah naungan PSSI, manajemen Sriwijaya FC harus mengikuti kompetisi yang dibuat oleh PSSI, dalam hal ini adalah IPL. Oleh karena itu, manajemen Sriwijaya FC telah menyiapkan tim untuk berlaga di IPL dan meminta PSSI memberikan kepastian bahwa Sriwijaya FC bisa berlaga di kompetisi IPL.

Setelah sekian lama menunggu surat balasan dari PSSI yang tidak kunjung datang, maka manajemen Sriwijaya FC pun memutuskan untuk tidak melakukan pertandingan melawan Persebaya dikarenakan kepastian dari PSSI tidak didapatkan.


“Kami menegaskan bahwa kami tidak bisa meninggalkan ISL karena hal tersebut merupakan aspirasi dari sebagian besar masyarakat sumatera selatan dan penggemar Sriwijaya FC dan kami tetap mengikuti IPL karena menghormati dan taat pada perintah PSSI. Namun nyatanya, tidak ada jawaban dari PSSI dan kami pun memutuskan untuk tidak berangkat melawan Persebaya dikarenakan kami masih menunggu jawaban dari PSSI.” Kata Hendry Zainuddin.


Ternyata, setelah beberapa hari berlalu sejak Sriwijaya FC tidak jadi bertanding melawan Persebaya, manajemen Sriwijaya FC mendapatkan surat pemberitahuan bahwa Sriwijaya FC diberikan sanksi berupa denda sebesar lima ratus juta rupiah dan penurunan kasta dari level tertinggi menjadi penghuni level kedua yaitu divisi utama pada musim kompetisi 2012/2013.

Manajemen Sriwijaya FC tidak hanya diam menanggapi keputusan tersebut. Presiden klub memerintahkan kepada jajaran manajemen untuk melakukan banding dan menyiapkan pengacara untuk melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh PSSI. Memori banding nantinya akan dikirimkan pada tanggal 28 Desember 2011 yang berisi empat poin penolakan yaitu penolakan degradasi atas nama SFC dan PT. SOM dari IPL, penolakan degradasi tim Sriwijaya FC ke divisi utama musim 2012/2013, penolakan membayar denda sebesar lima ratus juta rupiah, dan penolakan pencabutan izin transfer pemain pada musim kompetisi 2012/2013 nanti.

“Memori banding telah dibuat dan akan diajukan pada tanggal 28 Desember 2011 mendatang. Memori tersebut berisi penolakan terhadap 4 poin yang berisi keputusan PSSI. Adapun penolakan tersebut yaitu Manajemen Sriwijaya FC menolak degradasi atas SFC dan PT. SOM dari IPL karena hingga jum’at (23/12) malam, SFC masih tercatat disitus FIFA sebagai anggota IPL. Kedua, kami menolak degradasi ke Divis Utama. Ketiga, kami menolak membayar denda sebesar lima ratus juta rupiah karena Sriwijaya FC tidak merugikan pihak sponsor karena sampai saat ini, Sriwijaya FC masih menyatakan mengikuti IPL. Keempat, manajemen Sriwijaya FC menolak pencabutan izin transfer pemain.” Kata Direktur Keuangan PT. SOM yang bernama Augie Bunyamin.

Saya sangat bingung dengan keputusan PSSI ini. Beberapa waktu yang lalu, PSSI meminta agar Sriwijaya FC mengikuti IPL, permintaan tersebut pun akhirnya dipenuhi. Tetapi ternyata Sriwijaya FC mendapatkan sanksi dengan alasan tidak mau bergabung dengan IPL karena tidak menjalani pertandingan melawan Persebaya.

Seharusnya, pada awalnya ketua dan sebagian pengurus PSSI tidak terlalu arogan. Mereka seharusnya mengajak duduk bersama dan berkomunikasi dengan semua anggota PSSI dan pengurus klub yang berada dibawah kepemimpinanannya guna membahas bagaimana system kompetisi nantinya akan dibangun. Bukan malah menjadi otoriter dan lebih mementingkan kepentingan golongan mereka sendiri. Tindakan otoriter tentunya akan menimbulkan pembangkangan yang dilakukan oleh anggota PSSI terhadap ketua dan pengurusnya. Hasilnya adalah seperti yang kita rasakan saat ini. Kompetisi terbagi menjadi dua, dimana setiap pengurus kompetisi merasa bahwa mereka benar. Pemain, penonton, dan supporter, serta pengamat dibuat bingung oleh tindakan kekanak-kanakan yang dilakukan oleh ketua PSSI dan sebagian pengurus PSSI.

Semoga saja permasalahan ini bisa segera selesai sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan kita bisa melihat sang garuda terbang tinggi di asia tenggara, benuia asia, dan dunia. Semoga saja.

Rujukan : Koran Sriwijaya Post terbitan hari Sabtu tanggal 24 Desember 2011 halaman 12 dengan judul SFC tantang PSSI

Refreshing bersama keluarga di Stadion

Seorang Ibu bersama anaknya di Stadion GSJ
Saat ini, mungkin sangat banyak rakyat Indonesia yang bingung dengan hidup mereka selama menjadi rakyat. Bagaimana tidak, para pemimpin bangsa lebih cenderung untuk memperkaya diri dan golongan mereka sendiri. Sementara untuk kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, mungkin termasuk kedalam kategori yang tidak harus mereka fikirkan.

Kebingungan yang dirasakan oleh rakyat tersebut terkadang membuat mereka menjadi stress dan membutuhkan refreshing. Tetapi tidak sedikit tempat wisata yang mematok harga masuk dengan sangat mahal. Alhasil, mereka pun tidak bisa refreshing ditempat wisata.

Mereka yang bingung ternyata harus memutar otak agar bagaimana caranya mereka bisa refreshing, baik sendirian ataupun bersama keluarga mereka. Akhirnya, menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola di Stadion menjadi alternatif refreshing bagi mereka guna menghilangkan kejenuhan dari penatnya menatap kehidupan sebagai rakyat Indonesia.

Mungkin, pada saat ini masih sangat sedikit orang yang mau mengajak keluarganya menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion. Selain dikarenakan masih banyak orang yang tidak menyukai olahraga ini, alasan keamanan juga menjadi pertimbangan bagi mereka untuk tidak menyaksikan pertandingan di stadion ataupun mengajak keluarga mereka menyaksikan pertandingan sepak bola di stadion.

Menurut saya, pada saat ini para penggemar Sriwijaya FC sudah seharusnya dijadikan contoh bagi banyak penonton sepak bola di Indonesia. Sudah beberapa tahun terakhir ini, saya menyaksikan para penonton sriwijaya fc bisa sangat santai mengajak keluarganya menyaksikan pertandingan sepak bola tanpa harus merasa takut akan terjadi suatu kerusuhan.

Saya biasanya menyaksikan pertandingan kandang Sriwijaya FC di Tribun Barat Atas yang biasanya diisi oleh para penonton umum yang terdiri dari anak muda, orang dewasa, sampai orang tua. Selain itu, saya juga pernah menyaksikan pertandingan kandang Sriwijaya FC di Tribun Timur yang diisi oleh Supporter Sriwijaya FC yang bernama Beladas dan Tribun Utara yang diisi oleh Supporter Sriwijaya FC yang bernama Singa Mania. Sementara tribun selatan digunakan sebagai tempat bagi supporter tim tamu.

Selama menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC dari semua tribun, saya mendapatkan satu buah pemandangan yang sama yaitu banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya menyaksikan pertandingan tersebut. Bahkan mereka pun menyempatkan makan bersama layaknya sedang piknik ditempat rekreasi ketika istirahat babak pertama dilaksanakan. Bahkan, momen seperti itu sempat saya abadikan dalam sebuah foto. Tetapi dikarenakan suatu hal, foto tersebut terhapus.

Semoga saja nantinya, semakin banyak orang tua yang mengajak anak-anaknya menyaksikan pertandignan sepak bola di stadion. Hal ini tentunya harus ditunjang dari kedewasaan para supporter untuk menerima hasil yang telah terjadi. Supporter bisa berlapang dada dengan keputusan wasit dan tidak mau menciptakan kerusuhan karena mereka mendukung tim kesayangan mereka dengan satu tujuan mendapatkan kepuasan batin yang pastinya dilakukan tanpa menciptakan kerusuhan ataupun kericuhan. Semoga saja.. Aaamiin.

Palembang, 19 Desember 2011

Dua orang anak kecil  menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC